Andi's Blog: Kisah Perlawanan Antara Seorang Lelaki dan Iblis

Pada awalnya suami istri itu hidup tenteram. Meskipun melarat, mereka taat kepada perintah Tuhan. Segala yang dilarang Allah s.w.t. dihindari, dan ibadah mereka taat sekali. Si Suami adalah seorang yang alim yang taqwa dan tawakkal. Tetapi sudah beberapa lama istrinya mengeluh terhadap kemiskinan yang tiada habis-habisnya itu. Ia memaksa suaminya agar mencari jalan keluar. Ia membayangkan alangkah enaknya hidup jika segala-galanya serba cukup. Pada suatu hari, lelaki yang alim itu berangkat ke ibu kota, mau mencari pekerjaan. Di tengah perjalanan Dia melihat sebatang pohon besar yang tengah dikerumuni orang banyak. Ia mendekat. Ternyata orang-orang itu sedang memuja-muja pohon yang konon keramat dan sakti. Banyak juga kaum wanita dan pedagang yang meminta-minta agar suami mereka setia atau dagangnya laris.

"Ini syirik," pikir lelaki yang alim tadi. "Ini harus di berantas habis. Masyarakat tidak boleh dibiarkan menyembah serta meminta selain Allah s.w.t. ." 
Maka pulanglah dia terburu-buru. Istrinya heran, mengapa secepat itu suaminya kembali. Lebih heran lagi waktu dilihatnya si suami mengambil sebilah kapak yang diasahnya tajam. Lantas lelaki alim tadi bergegas keluar. Isterinya bertanya tetapi dia tidak menjawab. Segera dinaiki keldainya dan dipacu cepat-cepat menuju pohon itu. Sebelum sampai di tempat pohon itu berdiri, tiba-tiba melompat sesosok tubuh tinggi besar dan hitam. Dia adalah iblis laknatullah yang menyerupai sebagai manusia.

"Hai, mau ke mana kamu?" tanya si iblis laknatullah.
Orang alim tersebut menjawab, "Saya mau menuju ke pohon yang disembah-sembah orang bagaikan menyembah Allah s.w.t.. Saya sudah berjanji kepada Allah s.w.t. akan menebang pohon itu."
"Kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan pohon itu. Yang penting kamu tidak ikut-ikutan syirik seperti mereka. Sudah pulang saja."
"Tidak boleh, kemungkaran harus  diberantas," jawab si alim bersikap tegas.
"Berhenti, jangan teruskan!" bentak iblis laknatullah marah.
"Akan saya teruskan!" 

Kerana masing-masing tegas pada pendirian, akhirnya terjadilah perkelahian antara orang alim tadi dengan iblis laknatullah. Kalau melihat perbedaan badannya, seharusnya orang alim itu dengan mudah dikalahkan. Namun ternyata iblis laknatullah menyerah kalah, meminta ampun. Kemudian iblis itu berdiri menahan rasa sakit dan dia berkata, "Tuan, maafkanlah kekasaran saya. Saya tak akan berani lagi mengganggu tuan. Sekarang pulanglah. Saya berjanji, setiap pagi, apabila setelah Tuan selesai menunaikan shalat Subuh, di bawah tikar sembahyang Tuan saya sediakan uang emas empat dinar. Pulang saja cepat, jangan dulu teruskan niat Tuan itu,"
Mendengar janji iblis laknatullah dengan uang emas empat dinar itu, lunturlah kekerasan tekad si alim tadi. Ia teringatkan istrinya yang hidup serba kekurangan. Ia teringat setiap hari rungutan istrinya. Setiap pagi empat dinar, dalam sebulan saja dia sudah menjadi orang kaya. Mengingatkan desakan-desakan istrinya itu maka pulanglah dia. Patah niatnya yang semula hendak memberantas kemungkaran. 


Demikianlah, semejak pagi itu istrinya tidak pernah marah lagi. Hari pertama, ketika si alim selesai shalat, dibuka sajadahnya. Betul di situ tergolek empat benda berkilat, empat dinar uang emas. Dia meloncat riang, istrinya gembira. Begitu juga hari yang kedua. Empat dinar emas. Ketika pada hari yang ketiga, matahari mulai terbit dan dia membuka sajadahnya, masih didapatinya uang itu. Tapi pada hari keempat dia mulai kecewa. Di bawah sajadahnya tidak ada apa-apa lagi kecuali tikar pandan yang rapuh. Istrinya mulai marah kerana uang yang kemarin sudah habis sama sekali.

Si alim dengan lesu menjawab, "Jangan kuatir, esok barangkali kita bakal dapat delapan dinar sekaligus." 
Keesokkan harinya, dengan harap-harap cemas suami-isteri itu bangun pagi-pagi. Selesai shalat dibuka sajadahnya, ternyata kosong.
"Kurang ajar. Penipu," teriak si isteri. "Ambil kapak, tebanglah pohon itu."
"Ya, memang dia telah menipuku. Akan aku tebang pohon itu semuanya hingga ke ranting dan daun-daunnya," sahut si alim itu.
Maka segera ia mengeluarkan keledainya. Sambil membawa kapak yang sangat tajam dia memacu keledainya menuju ke arah pohon itu. Di tengah jalan iblis laknatullah yang berbadan tinggi besar tersebut sudah menghalang. Katanya menyorot tajam, "Mau ke mana kamu?" herdiknya menggelegar.

"Mau menebang pohon itu," jawab si alim dengan gagah berani.
"Berhenti, jangan lanjutkan." larang si iblis laknatullah
"Bagaimanapun juga pohon itu harus tumbang." jawab lelaki itu.
Maka terjadilah kembali perkelahian yang hebat. Tetapi kali ini bukan iblis laknatullah yang kalah, tapi si alim yang terkulai. dengan kesakitan, si alim tadi bertanya penuh heran, "Dengan kekuatan apa engkau dapat mengalahkan saya, padahal dulu engkau tidak berdaya sama sekali?"
Iblis laknatullah itu dengan angkuh menjawab, "Tentu saja engkau dahulu menang, karena waktu itu engkau keluar rumah untuk Allah, dan demi Allah. Andaikata kukumpulkan seluruh pasukanku untuk menyerangmu, pastilah aku takkan mampu mengalahkanmu. Sekarang kamu keluar dari rumah hanya kerana tidak ada lagi uang di bawah sajadahmu. Maka biarpun kau keluarkan seluruh tenagamu, tidak akan mungkin kamu mampu menjatuhkanku. Pulang saja. Kalau tidak, kupatahkan nanti batang lehermu."

Mendengar penjelasan iblis laknatullah ini si alim tadi termenung. Ia merasa bersalah, dan niatnya memang sudah tidak ikhlas karena Allah s.w.t. lagi. Dengan terhuyung-huyung ia pulang ke rumahnya. Dibatalkan niatnya yang semula untuk menebang pohon itu. Ia sadar bahwa perjuangannya yang sekarang adalah tanpa keikhlasan karena Allah s.w.t., dan ia sadar perjuangan yang semacam itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Sebab tujuannya adalah karena harta benda, mengatasi keutamaan Allah s.w.t. dan agama. Bukankah berarti ia menyalahgunakan agama untuk kepentingan hawa nafsu semata?

"Barangsiapa di antaramu melihat suatu kemungkaran, hendaklah (kamu berusaha) memperbaikinya dengan tangannya (kekuasaan), bila tidak mungkin hendaklah berusaha memperbaikinya dengan lidahnya (nasihat), bila tidak mungkin pula, hendaklah mengingkari dengan hatinya (tinggalkan). Itulah selemah-lemahnya iman."
Hadist Riwayat Muslim